Asmat: Memotret dari Dalam Keheningan
Mengapa Tanah Bakau Papua Selatan
Menjadi Ruang Ziarah Fotografi Humanis
Foto : Arbain Rambey
Teks : Evi Aryati Arbay
Senin, 22 Desember 2025 | 11:15 WIB

Kampung Bakyor,Asmat. Arial Photo: Arbain Rambey
Di Asmat, cahaya tidak datang untuk memamerkan diri. Ia turun perlahan, menyentuh air cokelat sungai, kulit kayu mangrove, wajah-wajah yang tidak mencari perhatian. Di sini, fotografi tidak dimulai dari kamera, tetapi dari kehadiran.
Papua Selatan bukan destinasi fotografi yang ramah. Tidak ada jalan panjang beraspal. Tidak ada sudut pandang yang mudah. Rawa, sungai berlumpur, hujan yang datang tiba-tiba, dan jarak antar-kampung yang hanya bisa ditempuh dengan perahu kecil menjadikan setiap perjalanan sebagai latihan kesabaran. Namun justru di situlah Asmat menyimpan kekuatannya: ia tidak memberi gambar, ia menuntut hubungan.
Bagi fotografer dokumenter dan humanis, Asmat adalah ruang langka, tempat di mana visual tidak bisa dipisahkan dari etika.

Fotografi yang Lahir dari Kepercayaan
Asmat telah lama dikenal dunia melalui ukiran kayunya. Namun di balik artefak yang kerap dipajang di museum internasional, ada kehidupan sehari-hari yang jarang disentuh kamera dengan utuh. Di sini, tubuh bukan objek estetika, tetapi bagian dari kosmologi. Gerak bukan pertunjukan, melainkan ritus. Wajah bukan potret, melainkan penyimpan ingatan kolektif.
Itulah sebabnya, memotret Asmat membutuhkan sesuatu yang lebih penting daripada lensa cepat: kepercayaan.
Kepercayaan itulah yang menjadi fondasi buku Mgr. Aloysius Murwito, OFM. Dari Bakau ke Surga – TUHAN Tidak Pernah Jauh. Buku ini merekam 23 tahun perjalanan pastoral di Keuskupan Agats, salah satu wilayah pelayanan paling sulit di Dunia, tempat iman, budaya, dan kemanusiaan bertaut tanpa jarak.
Ditulis oleh Evi Aryati Arbay dan John Ohoiwirin, Kurator sekaligus Direktur Museum Asmat serta disunting dan dikurasi visual oleh Arbain Rambey, maestro fotografi Indonesia, buku ini bukan sekadar dokumentasi. Ia adalah pelajaran visual tentang bagaimana mendekat tanpa melukai, dan melihat tanpa mengambil.
Bagi fotografer, buku ini penting karena ia tidak mengajarkan teknik, tetapi sikap.

Melihat Sebelum Memotret
Fotografi di Asmat tidak bisa dilepaskan dari konteks. Setiap ukiran memiliki silsilah. Setiap tarian memiliki fungsi sosial dan spiritual. Setiap ekspresi kolektif terutama dalam ritual dan festival, memiliki batas yang harus dihormati.
Di sinilah banyak fotografer gagal: datang dengan rasa ingin tahu, tetapi pulang tanpa pemahaman.
Buku Dari Bakau ke Surga bekerja sebagai kompas etis. Ia membantu fotografer memahami:
• kapan kamera boleh diangkat,
• kapan ia harus diturunkan,
• dan kapan kehadiran jauh lebih penting daripada gambar.
Dalam tradisi fotografi dokumenter, ini adalah nilai yang mulai langka.

Festival Budaya Asmat 2026: Ruang Belajar Visual
Tahun 2026, Festival Budaya Asmat kembali digelar. Bagi komunitas fotografi, ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang belajar visual kolektif.
Festival ini bukan panggung yang dibangun untuk kamera. Ia adalah perayaan internal yang membuka diri, sejauh relasi memungkinkan. Tari-tari yang ditampilkan bukan koreografi turistik, tetapi ekspresi kosmologis. Ukiran tidak dibuat untuk dipajang, tetapi untuk menjalankan fungsi sosial dan spiritualnya.
Datang ke festival ini berarti masuk ke ruang yang hidup.
Dan ruang hidup menuntut kerendahan hati visual.

Sebanyak 4 Judul Buku di Launching sekaligus sebagai buah perjalanan pastoral dan Warisan Intelektual pada perayaan HUT 75 Uskup Agats yang dilakukan di Agats 19 Desember 2025.
Ketika Fotografi Kembali Menjadi Kesaksian
Di era gambar berlimpah dan algoritma cepat, Asmat mengingatkan fotografer pada akar profesinya: menjadi saksi, bukan pengambil.
Di tanah bakau ini, kamera akan menguji empati Anda. Ia akan memaksa Anda menunggu. Ia akan menolak Anda jika datang terlalu cepat. Tetapi jika Anda bertahan, jika Anda belajar melihat sebelum memotret, Asmat akan memberi Anda sesuatu yang tidak bisa diunduh: makna.
Mulailah dengan membaca bukunya.
Datanglah dengan waktu, bukan target.
Bawalah kamera, tetapi lebih penting: bawalah diri Anda seutuhnya.
Karena di Asmat, foto terbaik sering kali lahir
bukan dari cahaya yang dramatis,
melainkan dari keheningan yang dipercaya.
(Evi Aryati Arbay – Penulis, Etnolog & Tour Operator Specialist)

Cover depan dan belakang Buku yang syarat makna (Istimewa)

